Sebuah Puisi Taufik Ismail untuk Ariel Peterpan

Inilah Puisi Taufik Ismail untuk Ariel Peterpan – Berita mengenai video Ariel dan Cut Tari serta video Luna Maya dan Ariel Peterpan sampai saat ini masih hangat diperbincangkan di berbagai media.

Saking maraknya pemberitaan tentang video mesum Ariel Cut Tari dan Luna Maya tersebut rupanya mengusik penyair kondang Taufik Ismail. Dalam seruan penghapusan pornografi atau yang disebut Deklarasi Menteng yang dilakukan di kantor KPAI Jumat (25/6) kemarin, Taufik membacakan puisi untuk Ariel Peterpan. Berikut petikan puisinya :


Gerakan Syahwat Merdeka (Atau tentang rasa malu yang redup tenggelam di tanah air kita)

Reformasi sebagai gelombang raksasa

Membawa perubahan politik dahsyat satu dasawarsa

Dan menumpang masuklah penghancur nilai-nilai luhur bangsa,

Penumpang destruktif pelaksana

Dengan ciri kerja gabungan utama:

Permisif: serba boleh

Adiktif: serba kecanduan

Brutalistik: serba kekerasan

Transgresif: serba melanggar aturan

Hedonistik: serba mau enak, foya-foya

Materialistik: serba benda, diukur

Dan mereka bekerja dengan leluasa, karena tidak ada rasa malu lagi dalam panca indera

Dengan mengusung nilai permisif, serba boleh begitu-begini

Hak orang lain diambil, tanpa rasa malu lagi

Populernya ini disebut korupsi

Dan menjadilah negeri ini menduduki papan atas di dunia koruptif kini

Karena rasa malu terkikis nyaris habis

Nilai permisif yang serba boleh itu menyebabkan hak penggunaan kelamin orang lain

Diambil dicuri tanpa rasa isi

Karena rasa malu sudah sangat erosi

Perilaku adiktif, serba kecanduan di negeri kita ini

Melingkupi alkohol, nikotin, narkotika dan pornografi

Dilakukan orang karena rasa malu yang makin kerdil mengecil

Tingkah laku brutalistik, serba kekerasan

Menyebabkan wajah Indonesia tak lagi ramah dan sopan

Sedikit-sedikit murka, kepalan teracung, kata-kata nista

Menggoyang pagar, merusak kantor, membakar kendara

Bringas, ganas, sampai membunuh sesama bangsa

Begitulah rasa malu sudah habis dan sirna

Kelakuan transgresif, serba melanggar peraturan

Mengakunya progresif, pelopor kemajuan

Tapi sejatinya transgresor, melangkahi merusak tatanan

Mendobrak tabu kepada yang muda diajarkan

Karena rasa malu sudah hancur berantakan

Perilaku hedonistik, serba mau enak dan foya-foya

Memperagakan kekayaan di lautan kemiskinan

Empati jadi direduksi luar biasa

Karena rasa malu sudah raib ke angkasa

Kelakuan materialistik, serba benda

Segala aspek kehidupan diukur dengan uang semata

Cengkeramannya makin terasa dalam perilaku hidup kita

Karena rasa malu akan kita cari kemana

Inilah adegan kehancuran budaya bangsa kita

Salah satu sebab utama, dari banyak faktor yang dapat dieja

Yang sepatutnya kita sebut sambil menangis

Di dalam praktik di masyarakat kita hari ini

Terutama berlangsung sejak Reformasi

Tak ada sosok dan bentuk organisasi resminya

Tapi jaringan kerjasamanya mendunia,

Kapital raksasa mendanainya,

Ideologi gabungan melandasinya

Dengan gagasan neo-liberalisme sebagai lokomotifnya

Dan banyak media massa jadi pengeras suaranya

Dan tak ada rasa malu dalam pelaksanaannya

Inilah Gerakan Syahwat Merdeka

Dan pornografi salah satu komponen pentingnya.

Source: http://www.tempointeraktif.com

Itulah puisi Taufik Ismail untuk Ariel. Kabar terkini mantan vokalis band Peterpan ‘Ariel’ telah ditetapkan sebagai tersangka karena merekam adegan seksnya dengan Luna Maya dan Cut Tari. Mulai Selasa (22/6/2010) malam lalu, Nazriel Irham alias Ariel Peterporn resmi berstatuskan tahanan Mabes Polri.

Tentang boycreations

I am a boy who wont to make a many creations for share to everyone. Because i am a good boy...(^_^)
Pos ini dipublikasikan di HoT NewS, kata mutiara, world story. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s